Halaman

Jumat, 29 Juli 2016

Pemahat yang Selalu Menepati Janji


Masaki adalah seorang anak yatim piatu. Peperangan membuat ia hidup terlunta-lunta. Untunglah Shunsuke menemukannya dan mau mengasuhnya.
Shunsuke adalah seorang pemahat patung terkenal. Namun ia bukan orang baik.
Ia selalu mendahulukan pesanan orang-orang kaya. Karena mereka bersedia membeli patungnya dengan harga mahal.
Shunsuke pun mau mengasuh Masaki karena ia punya rencana,  "Kalau Masaki sudah besar, ia akan kujadikan pembantu. Tentu saja tak perlu kubayar. Aku kan sudah berbaik hati mau membesarkannya!"
Sejak kecil Masaki sudah diberi perkerjaan berat. Ia harus pergi ke hutan mencari berbagai jenis kayu. Walau demikian Masaki tidak mengeluh. Sebab pengetahuannya tentang kayu-kayuan bertambah.
Suatu ketika, pohon-pohon di hutan Timur mulai gundul. Masaki sulit mencari kayu yang dibutuhkan Shunsuke.
Terpaksa ia mencari di hutan Barat yang letaknya jauuh sekali. Akibatnya Masaki tiba di rumah larut malam.
Hal itu harus dilakukannya setiap hari. Tubuh Masaki menjadi lemah.
Akhirnya, "Aku harus melakukan sesuatu. Agar tak perlu mencari kayu di hutan Barat lagi!" pikir Masaki.
Ia lalu mengumpulkan benih-benih pohon langka. Lalu disebarnya di hutan Timur dekat tempat tinggalnya.
Peri Penunggu Hutan Timur sangat senang. Ia lalu minta tolong pada Dewa Hujan, Dewa Tanah, dan Dewa Matahari.
Hujan pun turun dan tanah memberi makanan. Matahari bersinar menumbuhkan benih-benih itu.
Ilustrasi: aperfectworld.org
Dalam sehari saja, benih-benih itu berubah menjadi pohon-pohon raksasa yang gagah. Masaki berterima kasih pada Peri Penunggu Hutan Timur dan ketiga dewa.
Janji yang Ditepati
Ia membungkukkan badan tiga kali dan berjanji, "Saya akan menyebar benih setiap menebang satu pohon. Sehingga hutan tetap lestari dan hewan-hewan punya tempat tinggal."
Tahun-tahun pun berlalu. Masaki tumbuh menjadi dewasa, namun perang masih berkecamuk. Banyak rakyat yang mati di peperangan.
Akibatnya, banyak pula orang yang datang ke rumah Shunsuke. Mereka minta dipahatkan patung. Untuk diletakkan di atas makam keluarga yang meninggal. Begitulah adat penduduk desa itu.
Orang-orang kaya bersedia membayar dengan berkantong-kantong emas. Asal pesanannya diselesaikan lebih dulu.
Tanpa pikir panjang Shunsuke menerima semua pesanan. Padahal sebenarnya ia tak sanggup. Pada hari yang dijanjikan, patung-patung itu belum selesai juga. Para pemesan menjadi kesal.
"Pak, kalau patung orang-orang kaya itu tidak cepat diselesaikan, kasihan orang-orang miskin. Mereka jadi harus menunggu lebih lama lagi!" tegur Masaki.
Mendengar itu Shunsuke menjadi marah. Malam itu juga Masaki diusirnya.  Masaki lalu membuat pondok tak jauh dari rumah Shunsuke.
Setelah itu ia mencari kayu dan mulai memahat. Shunsuke memang tak pernah mengajarinya memahat. Namun Masaki sering memperhatikan Shunsuke bekerja.
Masaki memberikan patung-patungnya pada orang miskin yang memerlukannya untuk pemakaman. Walau sederhana, patung buatan Masaki sangat halus.
Sekejap saja patung buatan Masaki menjadi terkenal. Shunsuke menjadi geram. Tak ada lagi orang yang datang kepadanya.
Suatu hari ia bertanya pada bekas pelanggannya, "Memangnya apa beda patung buatanku dan buatan Masaki?"
"Tuan Masaki itu tak pernah membeda-bedakan pemesan. Kaya miskin sama saja. Yang pesan duluan, ya, patungnya jadi duluan!
Hebatnya, patungnya selalu selesai sesuai hari yang dijanjikannya," sindir bekas pelanggan Shunsuke.
Suatu pagi, utusan istana datang ke pondok Masaki.
Kudengar kau adalah seorang pemahat yang selalu menepati janji. Besok prajurit kerajaan akan melawan pasukan musuh.
Kaisar memerintahkan kamu untuk membuat patung dari kayu langka ini. Sebagai lambang kemenangan.
Apa kamu sanggup menyelesaikannya besok, sebelum matahari terbenam?" utusan itu menyerahkan kayu langka milik Kaisar.
Karena tak ada pesanan lain yang harus dikerjakan, Masaki menyanggupinya.
Janji yang Ditepati
Ilustrasi: blogspot
"Ingat, Masaki! Kalau patung itu tidak selesai, kau akan ditangkap. Tanpa patung itu prajurit kerajaan akan kalah!" ujar si utusan.
"Saya berjanji. Apapun yang terjadi, patung itu harus selesai, sebelum matahari terbenam," janji Masaki.
Setelah utusan itu pulang, Masaki menyiapkan alat-alat pahatnya. Masaki tidak tahu, diam-diam Shunsuke masuk ke pondoknya. Lalu mencuri kayu langka milik Kaisar,
"Hahaha, besok pagi baru kukembalikan kayu ini. Biar tahu rasa dia!" Shunsuke rupanya mendengar ucapan utusan Kaisar tadi.
Masaki sangat terkejut ketika tahu kayu langka itu hilang. Dengan kaki telanjang ia mencari kayu. Naik turun bukit, keluar masuk hutan.
Telapak kakinya sampai berdarah. Tapi kayu itu seperti lenyap ditelan bumi.  Esok paginya Masaki baru kembali ke pondok.
Betapa terkejutnya ia melihat kayu itu sudah ada di meja pondoknya. Tanpa membuang waktu, Masaki mulai memahat. Namun tenaganya telah habis.
Tak lama kemudian utusan Kaisar datang. Tentu saja patung itu belum jadi. Utusan Kaisar marah besar, "Patung itu belum selesai. Berarti kekalahan bagi prajurit kami. Prajurit, tangkap dia! Bawa ke penjara istana!"
Orang-orang desa tak berani mencegah prajurit istana. Tangan Masaki diikat, lalu dinaikkan ke kuda. Masaki sangat sedih dan malu. Sebab ia tidak pernah mengingkari janji.
Akhirnya Masaki meninggal di tengah perjalanan. Para prajurit membawa kembali mayatnya ke desanya. Orang-orang desa mengubur mayatnya di samping pondoknya.
Roh Masaki menangis mengadukan nasibnya pada Dewa Tanah yang menjaga tubuhnya. Dewa Hujan pun ikut menangis.
Peri Penunggu Hutan Timur lalu meminta Dewa Matahari mengundur waktu terbenamnya. Dewa Maut pun diminta sabar menunggu. Sebab roh Masaki ingin menepati janjinya sebelum dibawa ke langit.
Peri itu ingat bahwa Masaki telah melestarikan hutannya. Hari itu terjadilah hal yang ajaib. Walau sudah waktunya, matahari belum juga terbenam.
Orang-orang jadi heran sekaligus ngeri. Mereka mendengar suara kayu diketok-ketok. Seperti ada orang yang sedang memahat di dalam pondok Masaki. 
Orang-orang pun berkerumun di luar pondok. Beberapa waktu kemudian pintu pondok terbuka sendiri. Tampaklah karya Masaki yang terakhir.
Ya! Patung pesanan Kaisar telah selesai dipahat. Tampak roh Masaki berdiri di sampingnya. Roh itu perlahan-lahan lenyap. Bersamaan dengan terbenamnya matahari.
Beberapa hari kemudian, beberapa orang desa mengantar patung itu ke istana. Saat itu ada pesta yang sedang berlangsung.
Rupanya pasukan istana telah menang melawan pasukan musuh! Ketika melihat patung itu, utusan istana yang menangkap Masaki tertunduk menyesal.
Apalagi setelah tahu roh Masaki telah menyelesaikannya tepat sebelum matahari terbenam. Sesuai janji Masaki. Utusan istana menangis seperti anak kecil.
Shunsuke pun akhirnya menyesali perbuatannya. Ia mengakui semua dosanya. Namun utusan istana tidak memenghukumnya. Sebab mereka berdua sama-sama telah merasakan penyesalan yang dalam.
Patung itu akhirnya diletakkan di samping pondok Masaki. Sebagai lambang "janji yang ditepati".
Setiap orang yang melihatnya pasti langsung teringat janji-janji mereka kepada bapak ibu, anak, teman, saudara... yang harus segera ditepati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar