Masaki
adalah seorang anak yatim piatu. Peperangan membuat ia hidup
terlunta-lunta. Untunglah Shunsuke menemukannya dan mau mengasuhnya.
Ia selalu mendahulukan pesanan orang-orang kaya. Karena mereka bersedia membeli patungnya dengan harga mahal.
Shunsuke
pun mau mengasuh Masaki karena ia punya rencana, "Kalau Masaki sudah
besar, ia akan kujadikan pembantu. Tentu saja tak perlu kubayar. Aku kan
sudah berbaik hati mau membesarkannya!"
Sejak kecil Masaki sudah
diberi perkerjaan berat. Ia harus pergi ke hutan mencari berbagai jenis
kayu. Walau demikian Masaki tidak mengeluh. Sebab pengetahuannya
tentang kayu-kayuan bertambah.
Suatu ketika, pohon-pohon di hutan Timur mulai gundul. Masaki sulit mencari kayu yang dibutuhkan Shunsuke.
Terpaksa ia mencari di hutan Barat yang letaknya jauuh sekali. Akibatnya Masaki tiba di rumah larut malam.
Hal itu harus dilakukannya setiap hari. Tubuh Masaki menjadi lemah.
Akhirnya, "Aku harus melakukan sesuatu. Agar tak perlu mencari kayu di hutan Barat lagi!" pikir Masaki.
Ia lalu mengumpulkan benih-benih pohon langka. Lalu disebarnya di hutan Timur dekat tempat tinggalnya.
Peri Penunggu Hutan Timur sangat senang. Ia lalu minta tolong pada Dewa Hujan, Dewa Tanah, dan Dewa Matahari.
Hujan pun turun dan tanah memberi makanan. Matahari bersinar menumbuhkan benih-benih itu.
Dalam
sehari saja, benih-benih itu berubah menjadi pohon-pohon raksasa yang
gagah. Masaki berterima kasih pada Peri Penunggu Hutan Timur dan ketiga
dewa.
Ia membungkukkan badan tiga kali dan berjanji, "Saya
akan menyebar benih setiap menebang satu pohon. Sehingga hutan tetap
lestari dan hewan-hewan punya tempat tinggal."
Tahun-tahun pun berlalu. Masaki tumbuh menjadi dewasa, namun perang masih berkecamuk. Banyak rakyat yang mati di peperangan.
Akibatnya,
banyak pula orang yang datang ke rumah Shunsuke. Mereka minta
dipahatkan patung. Untuk diletakkan di atas makam keluarga yang
meninggal. Begitulah adat penduduk desa itu.
Orang-orang kaya bersedia membayar dengan berkantong-kantong emas. Asal pesanannya diselesaikan lebih dulu.
Tanpa
pikir panjang Shunsuke menerima semua pesanan. Padahal sebenarnya ia
tak sanggup. Pada hari yang dijanjikan, patung-patung itu belum selesai
juga. Para pemesan menjadi kesal.
"Pak, kalau patung orang-orang
kaya itu tidak cepat diselesaikan, kasihan orang-orang miskin. Mereka
jadi harus menunggu lebih lama lagi!" tegur Masaki.
Mendengar itu
Shunsuke menjadi marah. Malam itu juga Masaki diusirnya. Masaki lalu
membuat pondok tak jauh dari rumah Shunsuke.
Setelah itu ia
mencari kayu dan mulai memahat. Shunsuke memang tak pernah mengajarinya
memahat. Namun Masaki sering memperhatikan Shunsuke bekerja.
Masaki
memberikan patung-patungnya pada orang miskin yang memerlukannya untuk
pemakaman. Walau sederhana, patung buatan Masaki sangat halus.
Sekejap saja patung buatan Masaki menjadi terkenal. Shunsuke menjadi geram. Tak ada lagi orang yang datang kepadanya.
Suatu hari ia bertanya pada bekas pelanggannya, "Memangnya apa beda patung buatanku dan buatan Masaki?"
"Tuan Masaki itu tak pernah membeda-bedakan pemesan. Kaya miskin sama saja. Yang pesan duluan, ya, patungnya jadi duluan!
Hebatnya, patungnya selalu selesai sesuai hari yang dijanjikannya," sindir bekas pelanggan Shunsuke.
Suatu pagi, utusan istana datang ke pondok Masaki.
Kudengar kau adalah seorang pemahat yang selalu menepati janji. Besok prajurit kerajaan akan melawan pasukan musuh.
Kaisar memerintahkan kamu untuk membuat patung dari kayu langka ini. Sebagai lambang kemenangan.
Apa kamu sanggup menyelesaikannya besok, sebelum matahari terbenam?" utusan itu menyerahkan kayu langka milik Kaisar.
Karena tak ada pesanan lain yang harus dikerjakan, Masaki menyanggupinya.
"Ingat,
Masaki! Kalau patung itu tidak selesai, kau akan ditangkap. Tanpa
patung itu prajurit kerajaan akan kalah!" ujar si utusan.
"Saya berjanji. Apapun yang terjadi, patung itu harus selesai, sebelum matahari terbenam," janji Masaki.
Setelah
utusan itu pulang, Masaki menyiapkan alat-alat pahatnya. Masaki tidak
tahu, diam-diam Shunsuke masuk ke pondoknya. Lalu mencuri kayu langka
milik Kaisar,
"Hahaha, besok pagi baru kukembalikan kayu ini. Biar tahu rasa dia!" Shunsuke rupanya mendengar ucapan utusan Kaisar tadi.
Masaki
sangat terkejut ketika tahu kayu langka itu hilang. Dengan kaki
telanjang ia mencari kayu. Naik turun bukit, keluar masuk hutan.
Telapak kakinya sampai berdarah. Tapi kayu itu seperti lenyap ditelan bumi. Esok paginya Masaki baru kembali ke pondok.
Betapa
terkejutnya ia melihat kayu itu sudah ada di meja pondoknya. Tanpa
membuang waktu, Masaki mulai memahat. Namun tenaganya telah habis.
Tak
lama kemudian utusan Kaisar datang. Tentu saja patung itu belum jadi.
Utusan Kaisar marah besar, "Patung itu belum selesai. Berarti kekalahan
bagi prajurit kami. Prajurit, tangkap dia! Bawa ke penjara istana!"
Orang-orang
desa tak berani mencegah prajurit istana. Tangan Masaki diikat, lalu
dinaikkan ke kuda. Masaki sangat sedih dan malu. Sebab ia tidak pernah
mengingkari janji.
Akhirnya Masaki meninggal di tengah
perjalanan. Para prajurit membawa kembali mayatnya ke desanya.
Orang-orang desa mengubur mayatnya di samping pondoknya.
Roh Masaki menangis mengadukan nasibnya pada Dewa Tanah yang menjaga tubuhnya. Dewa Hujan pun ikut menangis.
Peri
Penunggu Hutan Timur lalu meminta Dewa Matahari mengundur waktu
terbenamnya. Dewa Maut pun diminta sabar menunggu. Sebab roh Masaki
ingin menepati janjinya sebelum dibawa ke langit.
Peri itu ingat
bahwa Masaki telah melestarikan hutannya. Hari itu terjadilah hal yang
ajaib. Walau sudah waktunya, matahari belum juga terbenam.
Orang-orang
jadi heran sekaligus ngeri. Mereka mendengar suara kayu diketok-ketok.
Seperti ada orang yang sedang memahat di dalam pondok Masaki.
Orang-orang
pun berkerumun di luar pondok. Beberapa waktu kemudian pintu pondok
terbuka sendiri. Tampaklah karya Masaki yang terakhir.
Ya! Patung
pesanan Kaisar telah selesai dipahat. Tampak roh Masaki berdiri di
sampingnya. Roh itu perlahan-lahan lenyap. Bersamaan dengan terbenamnya
matahari.
Beberapa hari kemudian, beberapa orang desa mengantar patung itu ke istana. Saat itu ada pesta yang sedang berlangsung.
Rupanya
pasukan istana telah menang melawan pasukan musuh! Ketika melihat
patung itu, utusan istana yang menangkap Masaki tertunduk menyesal.
Apalagi
setelah tahu roh Masaki telah menyelesaikannya tepat sebelum matahari
terbenam. Sesuai janji Masaki. Utusan istana menangis seperti anak
kecil.
Shunsuke pun akhirnya menyesali perbuatannya. Ia mengakui
semua dosanya. Namun utusan istana tidak memenghukumnya. Sebab mereka
berdua sama-sama telah merasakan penyesalan yang dalam.
Patung itu akhirnya diletakkan di samping pondok Masaki. Sebagai lambang "janji yang ditepati".
Setiap
orang yang melihatnya pasti langsung teringat janji-janji mereka kepada
bapak ibu, anak, teman, saudara... yang harus segera ditepati.
Suported :http://www.iampromise.win/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar