Halaman

Minggu, 07 Agustus 2016

Sebuah Janji

Luna, janji ya kita bakal bertemu lagi…” sahut bocah laki-laki itu sambil memegang tangan Luna.

“Ya, aku pasti janji my dear friends… , masa sahabat meninggalkanmu begitu aja sih,gak lucu tau!!! >.<” balas Luna dengan wajah cemberut.

“Luna, ayo nak!!kita segera berangkat.” Ajak Ibu Luna.

“Ya Ma!!Aku segera ke sana ,Bye ya!!!” kata Luna sambil tersenyum kepada anak itu.

Sesaat dia mau pergi, tiba-tiba anak laki-laki itu merangkul Luna dengan erat dan membisikkan sesuatu di telinganya. “ Disaatku besar nanti, aku pasti menjemputmu dan menjadikanmu sebagai istriku.” Semerbak warna merah, merona di pipi Luna dan saat membalikkan badannya bermaksud untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri, apa benar ucapannya itu. Namun, anak itu sudah pergi meninggalkan Luna. “Luna, aku pasti menjemputmu bukan sebagai sahabat!,” seru anak itu sambil berlari.

“Apa maksud perkataannya itu??” kata Luna dalam hati dan perkataaan tadi, terus melekat di hati Luna samapai dia beranjak dewasa.

Awal pertemuan antara seorang aktriss berbakat dengan pemain sepakbola internasional baru saja dimulai.

                                                           ***

“Pagi Lunaku sayang!!!kamu tambah imut deh!!” sahut Kozutsumi Nancy yang merupakan darah cempuran dari Jepang dan Inggris, wajahnya cantik, perawakannya mulus, dan juga tingginya 178 cm, hal inilah yang menjadi nilai plus bagi kaum adam di kelasnya.

“Weleh, weleh, Nancy, Nancy, loe tuh gak sadar ya kalo loe tuh bak bunga di tengah rawa.” Kata anak perempuan berkacamata , berambut panjang, hitam lurus dan juga tak kalah populer dengan Nancy. Dialah Sakurada Minto, ketua kelas XIS-3 saat ini dan dikagumi oleh guru-guru  dan seluruh warga sekolah atas berbagai prestasi yang telah ia cetak. Semua teman Luna hebat-hebat orangnya, terkadang Luna merasa terintimidasi karena ia bukan orang yang populer.

Back to percakapan tadi. Dengan sigap, Luna langsung menoleh ke arah Nancy. Untuk melihat wajahnya, dalam hitungan tiga, dua ,satu…

“Apa maksudmu, Min ??? Gue kagak ngerti sama sekali??” balasnya sambil memasang raut muka polos. Nah, ini dia reaksi yang sudah diduga oleh Natsumi Luna karena dari dulu mereka bersahabat sejak kelas 6 SD, makanya bisa tau sifat masing-masing. “Sudah, sudah daripada mikirin itu mendongan kita foukus dulu ke pelajaran yuk, tuh Bu Kacamata sudah datang, daripada nanti kita dijadiin sate ma dia.” Sahut Luna dengan nada sedikit kesal karena memang bel masuk sekolah SMA Yumana Dakoi sudah berbunyi nyaring, ya mau tidak mau Luna harus segera mengakhiri percakapan dengan sahabat-sahabatnya tersebut kalau mereka nggak mau dijemur di bawah terik matahari di lapangan sekolah.
Angin sejuk, suara kicauan burung, entah kenapa hal-hal berbau pedesaan tiba-tiba muncul dalam benaknya. Sejenak, Luna mentup matanya sebentar dan tiba-tiba ada bocah laki-laki. Segera ia berlari ke arah bocah tersebut, namun, bocah itu juga lari malah lebih cepat dari Luna. "Tunggu gue, mau tanya sama kamu." teriak Luna. Namun, teriakkan tersebut tak membuat berhenti bocah tersebut. Luna terus berlari mengejar anak tersebutdan BRUKKK!!!. Luna terjatuh dari tempat duduknya dan seluruh isi kelasnya menatap Luna keheranan, untunglah saat itu pelajarannya Bu Christine, guru yang sudah tua namun tetap rendah hati. Tapi, karena Luna telah membuat seisi kelas gempar akan jatuhnya tersebut terkena hukumlah dia . Uuuhh... kenapa gue harus dihukum sih, gue kan gak salah apa-apa, curcol Luna. Tapi, bener juga seh, akukan ngelamun, tambahnya lagi sambil ketawa-ketiwi.
"Salah sapa loe rame, pake action jatuh dari kursi segala lagi, huuu!!"ejek Maeda Jun dengan nada meremehkan yang duduknya berada di depanku.
"Wee...... sapa suruh juga, loe merhatiin gue, kan gak ada tulisan PERHATIIN LUNA,gak ada kan?!!" balas Luna jengkel.
"Ada tuh di jidat loe." balas Jun gak mau kalah.
Lalu, Mila nyolot juga ke Luna ." Kamseupay, eeuhhh...,hahaha"
"Emang harus bilang WOW gitu??" balas Luna gak mau kalah.
"WOOOOWW!!" kata Mila bareng genk wownya itu , yup dia mirip banget mbe Cherry dalam film 'Yang Masih Di Bawah Umur' . Sebel,sebel,sebel 99x itulah kata-kata yang terngiang di hati Luna upps maksudnya di kepalanya. Ingin rasanya gue kasih mulut tuh cabe biar gak isa ngomong WOW lagi, umpat Luna.
"Sudah Lun, jangan dengerin omongan genk gak jelas kayak gitu, mendingan sekarang loe perhatiin perintahnnya Bu Christine tih, daripada nanti loe harus harus dihukum berat lagi, gaka mau kan??" kata Minti yang ada benere. " Ya deh, ya uah nanti pinjemin gue ya cataan loe, soalnya butuh nih!!" pelas Luna. "Oke deh!"
Luna pun segera ke perpustakaan karena dia dihukum untuk meringkas Referensi Pkn mana bukunya tebel-tebel lagi.... Namun, saat ia mencari buku referensi buku Pkn yang lainnya, ia menemukan buku serial drama.
"Coba ah gue baca, ya refreshing dikit lah gak papa kan??" . Buku serial drama tentang percintaan Romeo dan Juliet tersebut dibaca dan dihayatinya dalam sekejap, saat itu pula Jun masuk ke perpustakaan karena memang ia berlangganan perpustakaan setiap jam istirahat.
Tarik nafas dalam dalam dan raut muka Luna berubah melembut sesuai dengan watak Juliet. "Aku suka kamu Romeoku...." kata Luna dengan wajahnya yang ramah, dan tentu saja betatapan dengan Jun Maeda yang merupakan pacar Kachito Mila, genk wow tersebut.

source : https://ngomik.com/story/4166-sebuah-janji-3/read
suported by : http://www.iampromise.win/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar